Selasa, 29 Oktober 2013

Surat Bonek tentang Tragedi Lamongan

Surabaya (beritajatim.com) - Tragedi tewasnya anggota LA Mania dalam insiden dengan bonek, Sabtu (22/1/2011), cukup menyita perhatian publik. Bonek dinilai sebagai pihak yang harus bertanggung jawab atas insiden tersebut. Lantas bagaimanakah tanggapan pihak bonek? Andhi Mahligai, seorang bonek asal Magetan yang saat ini tinggal di Jakarta, menulis sebuah pengakuan menarik.

Dia menuturkan tentang asal mula insiden tersebut. Bahwa, insiden merupakan rangkaian dari peristiwa lain yang sebelumnya telah terjadi. Artinya, insiden tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada kesejarahan yang melatarbelakanginya.

Dia sendiri tetap tidak membenarkan adanya kekerasan antarsuporter. Dia juga memimpikan bonek menjadi satu entitas tunggal dalam satu payung organisasi. "Satu payung lebih mempermudah dalam hal koordinasi, konsolidasi, edukasi, bahkan mungkin advokasi pada bonek yang tertimpa masalah hukum. Tour away juga lebih bisa tertata, sehingga ekses-ekses negatif yang berpotensi muncul saat tour bisa diminimalisir," demikian dia menulis. [but]

Inilah isi lengkap pengakuan bonek:

BONEK: Terdakwa tanpa Pledoi

Dalam beberapa hari ini Bonek kembali menjadi sorotan di hampir seluruh media informasi, mulai dari media elektronik hingga media cetak. Media tersebut, ramai memberitakan tragedi Lamongan yang ‘katanya’ dipicu oleh Bonek. Yang tentu saja, seluruh masyarakat yang melihat atau membaca berita tersebut, langsung menghakimi Bonek adalah biang kerusuhan.

Saya kira Bonek-pun tidak berkehendak akan timbul tragedi tersebut. Keberangkatan Bonek ke Tangerang murni akan rasa cinta pada Persebaya, Bonek bukanlah suporter yang harus dikoordinir untuk melakukan lawatan away, kecintaan terhadap Persebaya-lah yang mendorong tiap individu itu datang dan akhirnya berkumpul dalam serangkaian kereta menuju Jakarta. Begitu indah, begitu egaliter karena tak ada yang memimpin atau dipimpin, semuanya karena panggilan hati. Apalagi lawatan ke Tangerang sudah cukup lama tidak dilakukan Bonek (Seingat Penulis terakhir tahun 2003), yang membuat ribuan Bonek terkonsentrasi menuju Tangerang. Mungkin kalopun tragedi Lamongan ini terjadi, yang patut diketahui oleh public adalah ini murni dari perseteruan antara LA Mania dan Bonek yang sudah begitu lama terpendam. Bukan Warga melawan Bonek.

Entah siapa yang memulai, faktanya memang telah ada 2 korban dari Suporter LA Mania (bukan warga biasa). Tapi yang patut menjadi catatan adalah hampir setiap tahun dan waktu ketika Bonek mengadakan tour melewati Jalur Utara yang tentu saja melewati Kota Lamongan selalu terjadi sweeping oleh LA Mania pada kereta api yang ditumpangi Bonek, dan kejadian itu terus berulang dari waktu ke waktu. Yang jadi pertanyaan adalah, apa hak LA Mania mensweeping dan menurunkan Bonek yang hendak melakukan tour ke luar kota. Tidak ada bukti jika Bonek yang disweeping dan diturunkan adalah pelaku pengrusakan di Lamongan, jika pun terbukti hal tersebut adalah wewenang dari Kepolisian. Sangat disayangkan Kepolisian pun seakan tutup mata terhadap kejadian tersebut, harusnya jika memang melakukan Razia cukup dari aparat Kepolisian saja tanpa melibatkan warga sipil karena hal tersebut malah berpotensi memicu insiden bentrokan dan kebencian. Jadi semua ini sebenarnya adalah rangkaian peristiwa, yang terus berakumulasi dan puncaknya pada kejadian beberapa hari yang lalu.

Apapun alasannya, sebenarnya aksi kekerasan yang dilakukan oleh Bonek tersebut tidak bisa dibenarkan. Aksi kekerasan tetaplah sebuah tindakan Kriminal yang mempunyai konsekuensi di mata Hukum. Aksi kekerasan hanya menodai upaya keras Bonek untuk mengubah citranya yang negatif selama ini, apalagi media massa begitu sensitif terhadap pemberitaan Bonek. Dan yang dikhawatirkan terjadi, media massa dengan segera memberitakan bahwa Bonek melakukan tindakan brutal dalam perjalanannya menuju Tangerang, tanpa mengindahkan etika jurnalisme yang harusnya melihat dari dua sisi yang berimbang dan tidak bias dalam pemberitaan. Tentu saja dari pemberitaan tersebut, opini public langsung tergiring bahwa Bonek telah berbuat onar di Lamongan, dan hal ini memicu warga yang tak tau apa-apa untuk ikut ‘menyambut’ Bonek yang pulang dari Tangerang.

Dari pemberitaan media massa yang terus menyudutkan Bonek, menjadikan Bonek menjadi terdakwa di Negeri ini, tetapi sayangnya Bonek adalah terdakwa tanpa pledoi. Stigmatisasi negatif masyarakat kepada Bonek semakin menguat.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa paradigma masyarakat umumnya menganggap Bonek adalah “Biang Kerusuhan”, hal ini juga tak lepas dari stigmatisasi Media Informasi yang mencitrakan hal tersebut. Memang Bonek pernah berbuat rusuh, tetapi yang perlu diingat adalah kerusuhan dalam sepak bola Indonesia tidak hanya dimonopoli oleh Bonek. Hampir seluruh elemen Suporter di Indonesia pernah berbuat rusuh, bahkan oleh kelompok suporter yang dianggap terbaik sekalipun. Entah itu dalam bentuk terkecil seperti melempar benda-benda keras ke lapangan sampai dengan bentrokan antar suporter yang melibatkan massa dalam jumlah besar. Dan ironisnya, sekecil apapun tindakan bonek, hal ini langsung menjadi santapan empuk media dalam pemberitaan.

Media massa pun sepertinya menikmati nuansa Bonek yang penuh dengan kekerasan daripada melihat Bonek dari sisi yang lebih santun. Kemajuan yang diperlihatkan Bonek dalam pendewasaan kelihatannya tidak menarik bagi media yang memang lebih menyukai berita yang sensasional. “Bad news is good news” tetap menjadi tolok ukur media massa. Spirit sportivitas dan penerimaan terhadap hasil akhir yang ditunjukkan bonek pun tidak menarik bagi media massa. Di musim lalu, dua kali kekalahan di kandang sendiri, dari Persipura Jayapura dan Persik Kediri dan tidak terjadi kerusuhan apapun merupakan kemajuan yang patut dipuji dari Bonek.

Sangat patut disayangkan, stigmatisasi dan kriminalisasi terhadap Bonek yang dilakukan media informasi itulah yang sebenarnya juga semakin memperburuk attitude Bonek. Bagi bonek muda performa penuh kekerasan dan brutalisme dianggap sebagai ‘kebenaran’, dan bagi Bonek senior performa penuh kesantunan yang pernah ditunjukkan seolah lenyap begitu saja oleh pemberitaan media, hingga mereka berpikir berbuat baik atau tidak-pun toh media dan masyarakat tetap mengecap Bonek sebagai “bad boys”. Seolah-olah Bonek memang telah menjadi korban dari sebuah teori strukturalisme yang membutuhkan kelompok berpredikat 'bad boys' (anak nakal) untuk menentukan kelompok berpredikat 'good boys' (anak baik). Dan ironisnya, Bonek-lah yang ketiban sampur untuk diberi predikat sebagai “bad boys”.

Stigmatisasi dari media juga yang membuat banyak Bonek menjadi antipati pada Media. Tapi saya berharap, tak usahlah Bonek memusuhi media, tapi tunjukkan pada semua Media Informasi bahwa Bonek adalah supporter yang santun dan selalu berupaya, mempunyai itikad dan keinginan untuk menjadi lebih baik. Apa yang sudah dicapai, dengan segala kekurangannya. Bonek tak pernah berharap untuk diberi predikat terbaik, menjadi lebih baik itu lebih dari cukup.

Mari jadikan Tragedi ini, sebagai sebuah pembelajaran. Bahwa semangat Bonek yang egaliter, yang datang karena kecintaan terhadap Persebaya ternyata juga mempunyai sedikit kelemahan. Kelemahan itu ada pada koordinasi. Jangan sampai, karena ulah beberapa orang semuanya ikut terlibat dan merasakan getahnya.

Memang sudah saatnya Bonek menata ulang spiritnya, sudah waktunya Bonek menjadi satu entitas tunggal dalam satu payung organisasi. Satu payung lebih mempermudah dalam hal koordinasi, konsolidasi, edukasi, bahkan mungkin advokasi pada Bonek yang tertimpa masalah hukum. Tour away juga lebih bisa tertata, sehingga ekses-ekses negatif yang berpotensi muncul saat tour bisa diminimalisir. Manajemen Klub Persebaya pun harusnya juga mulai perduli dengan supporter, karena bagaimanapun juga baik dan buruknya supporter juga turut berperan dalam baik dan buruknya nama Klub. Suporter adalah spirit, jangan hanya pandang supporter sebagai konsumen belaka, tetapi rangkullah supporter sebagai keluarga.

INGAT.....
BONEK TAK KAN PERNAH MATI OLEH MEDIA MASSA....
TETAPI MEDIA MASSA AKAN MATI JIKA TIDAK ADA BONEK....

awal mula perseturuan BONEK vs DELTA

"Bonek Delta kita Saudara,Bonek Delta kita Saudara

Arema JanCok diBunuh Saja.."

Lagu itu selalu terdengar ketika Bonek Bertemu dengan Delta Mania.

Suporter yang merupakan cikal bakal semua supporter diJawa timur ini yg selalu bergandengan tangan dengan Adiknya’, Deltamania.

Baik di Surabaya atau pun Sidoarjo. Tapi itu dulu. Ya, sebelum Sang Adik menjadi

Durhaka seperti sekarang ini.

Semua ini berawal dari hal-hal kecil yang dibiarkan berlarut-larut dan akhirnya menjadi sebuah masalah yang besar.

Masih terekam Jelas diIngatan

saya ketika Persebaya vs Deltras diSurabaya pada Copa Indonesia tahun 2007/2008. Delta Mania

yang ditempatkan ditribun Utama

Gelora 10 November, Tambak Sari. Saat itu membakar baju Arema, Musuh bersama saat itu.

Bonek dan Deltamania sama- sama menyanyikan lagu Persaudaraan, Pertandingan berjalan aman meski Persebaya ditahan Imbang oleh Deltras. Deltamania Pun pulang dengan aman dan lancar. Namun keadaan berbalik ketika pertandingan leg k’2 diSidoarjo. Polisi melakukan penyitaan spanduk Bonek yang akan berangkat ke Sidoarjo tanpa ada alasan yang jelas. Ketika Salah seorang Bonek menanyakan alasannya ke Polisi. Dan Polisi menyatakan bahwa itu merupakan instruksi dari Deltamania dan Panpel Deltras.

Sampai diStadion, Bonek yang jumlahnya melebihi supporter tuan rumah Sebagian besar tertahan diluar Stadion, karena kondisi didalam stadion Delta sudah penuh. Tribun VIP sampai Utara dipenuhi Bonek, Sedangkan tribun Timur dan selatan diJejali supporter tuan Rumah. Ribuan Bonek yang tertahan diluar stadion kecewa karena sebagian besar sudah membeli tiket, alhasil terjadi kericuhan antara Bonek dan Aparat keamanan di luar stadion. Pertandingan sendiri Berlangsung alot dan panas.

Tak berbeda jauh dengan situasi ditribun penonton. Setelah Persebaya kebobolan, Emosi BONEK mulai terpancing. Keadaan semakin Memanas, setelah GOBEZT (Dirijen Deltamania) memimpin para Deltamania Bernyanyi Rasis yang Liriknya ada kata’’ PERSEBAYA cok dibunuh saja’. Ribuan Bonek mengamuk. Bonek ditribun VIP melempari pemain Deltras, Sedangkan yang diUtara melempari

Deltamania. Namun kericuhan hanya terjadi distadion. keadaan kembali Normal saat Bonek bertemu kembali dengan Deltamania, Sebenarnya tidak semua Deltamania Benci terhadap Bonek. Saya yakin Arus Bawah Deltamania masih menganggap dan Menghormati Bonek sebagai Saudara Tuanya, Karena di Sidoarjo sendiri Banyak warga asli Sidoarjo yang merupakan pendukungPersebaya. Hanya GOBEZT dan Delta-delta anyaran yang sekarang jadi memusuhi Bonek.GOBHES dulu sbelum jadi dirijen DELTAEK adalah juga salah satu dirijen BONEK kalo gak salah dipintu BB,dulu dia bersaing dengan dirijen RUDI JAMRUD,tp entah alasan apa dan karna apa sehingga GOBHES pindah haluan di DELTAEK,,

Mungkin karena mereka telah terpengaruh oleh Provokasi Arewaria. Sebagai Contoh, saat Persija bermain di Sidoarjo beberapa tahun lalu, beberapa anak beratribut Deltras Ada yang berusaha menyerang The Jak yang datang di Sidoarjo. Namun Anak tersebut justru dipukuli oleh korlap

Deltamania yang mengawal TheJak. Saya Juga Pernah melihat Baju Bertuliskan Deltamania Garis Keras Anti Aremania’ Saat saya menyaksikan Persidafon vs Persibo pada 8 besar divisi utama 2009 lalu diSidoarjo. Banyak hal lain yang menyebabkan hubungan Bonek Delta semakin memburuk. Diantaranya, ketika Deltras vs Persebaya di Sidoarjo

pada Liga JATIM 2010 bulan Ramadhan tahun Lalu. Deltamania yang kalah Jumlah dengan Bonek Malah Mengibarkan Syal Arema dan Menyanyikan Lagu yng Liriknya Menghina Bonek/ Persebaya. Bahkan Ketika Deltras Mencetak Gol, salah seorang Deltamania menaiki pagar Stadion lalu melepas celana dan menunjukkan alat kelaminnya kearah Bonek. Bonek pun Mengamuk dan

menyalakan kembang api lalu mengarahkannya keArah Deltamania, banyak Deltamania yang

menjadi korban pemukulan Bonek. Hal serupa Juga terjadi ketika Pertandingan

Deltras vs Persib pada lanjutan ISL 2010-2011. Puncaknya ketika markas Deltamania diDepan Stadion Deltras diSerang oleh gerombolan beratribut Bonek. Kejadian ini terjadi ketika Saya dan Kawan’’ Bonek Lainnya dalam Perjalanan Pulang Usai Menyaksikan Pertandingan Uji Coba diPasuruan. Bonek yang akan menuju Surabaya Justru Berbelok keArah stadion Deltras dan Menghancurkan markas Deltamania dan semua isi nya. Mungkin Para Bonek ini Sudah tidak Bisa menahan Emosi, karena di sepanjang jalan diSidoarjo banyak Coretan di Tembok yang menghina Bonek. Sangat disayangkan Bila Bonek dan Delta mania yang Dulunya kawan sekarang menjadi lawan. Dulu setiap Deltras bertanding sllu ada atribut Persebaya Deltras didalam stadion.

Namun atribut hijau merah itu tak terlihat lagi setelah 2 tahun lalu GOBEZT melarang atribut

Bonek masuk Stadion Saat Deltras bertanding. Sekarang yang sering

terlihat adalah atribut Arewaria ketika Deltras Bertanding. Mungkin Delta mania Sudah Lupa kalau suporter dari Malang itu pernah Merusak & Menghancurkan Stadion Delta pada tahun 2002 lalu. Saat itu Bonek membantu Deltamania yang diserang Aremania. Sekarang yang terjadi Justru Bonek yang akan menyaksikan pertandingan kandang

Persebaya dari Arah Selatan (Malang,Pandaan,Pasuruan,Probolinggo,Porong,dan sekitarnya) menjadi korban serangan rutin Deltamania. Nyanyian Rasis

menghina Bonek Juga Sepertinya sudah menjadi lagu wajib

bagi Deltamania. Permusuhan ini jika dibiarkan terus menerus tentunya akan berakibat fatal, apalagi letak Kota Sidoarjo Yang diKepung BASIS,,BASIS BONEK. Saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi bila Persebaya bertemu dengan Deltras di SIdoarjo. Sudah pernah diadakan Upaya perdamaian yang dipelopori Kalpolres Sidoarjo. Namun nampaknya perdamaian itu

hanya omong kosong belaka, jika tidak ada tindak lanjut. Kenyataannya lagu rasis masih terus dinyanyikan Deltamania. GOBEZT juga terus melakukan doktrin Benci Bonek kpda

warga Sidoarjo, khususnya Deltamania, meski doktrin itu tidak berlaku terhadap Deltamania Lawas(Lama). Ini terlihat dari jumlah penonton yang Hadir disetiap pertandingan kandang Deltras

selalu berkurang. Menurut saya hal ini terjadi karena Delta Lama, sudah Muak dengan Lagu- Lagu yang Menghina Bonek. Mereka lebih memilih untuk tidak

menonton dari pada ikut menghina jati diri mereka sendiri diMasa Lalu. DELTA Force BONEK kita saudara.

SEBELUM DELTAMANIA ADA BONEK SIDOARJO SUDAH ADA

SALAM SATU NYALI..

WANI ..

Bonek 100% Anti DELTAMANIA ANYARAN < GOBHES JANCOK >...

TO : BONEK 'INBONEKSIA RAYA'

FROM : BONEK 'INBONEKSIA RAYA'

S1NYAL WANI!!!
Y.I.B

Sejarah permusuhan BONEK & AREMANIA


Sejarah Permusuhan Bonek dan Aremania

 

Seperti di ketahui, antara Malang-Surabaya ada dua kelompok suporter (Aremania & Bonek) yang sangat eksis dan terkenal. Dan dari kedua kubu juga seakan-akan tidak ada kata damai dan akan selalu bermusuhan (meski ada sebagian kecil yang tidak setuju dengan hal ini). Akan tetapi masih banyak dari kedua kubu juga tidak mengetahui kenapa sih koq mereka bermusuhan.
Dalam kesempatan kali ini, ayas mendapatkan satu  ulasan yang cukup menarik yang membahas tentang sumber perseteruan kelompok supporter Aremania dan Bonek. Berikut disampaikan dalam akun FB sam Mas Arif Yusuf  di salah satu forum diskusi di FB.
” Menurut ayas (mohon maaf jika ada yg tak setuju/tak sependapat/tersinggung)
awal mula perseteruan suporter sepakbola Malang-Surabaya (saya tdk menyebutnyaAREMANIA-BONEK) karena “GENGSI DAERAH”, masing-masing menganggap kotanya lebih kuat dan lebih hebat. Alasan saya, baik berhubungan dengan sepakbola atau tidak adalah:
  1. Pada saat konser Kantata Takwa di Tambaksari pada 23 Januari 1990, tepat di depan panggung pada sekitar 30 menit pertama “dikuasai” arek-arek Malang sambil meneriakkan “Arema…Arema…Arema”. Arek-arek Suroboyo sebagai tuan rumah pun harus minggir dan “terkalahan”. Namun setelah itu, arek-arek Suroboyo yang jauh lebih banyak mulai bersatu dan “memukul mundur” arek-arek Malang hingga harus keluar dari Tambaksari. Di luar stadion, tawuran terus dilakukan hingga arek Malang sampai di stasiun (Gubeng???)
  2. Tawuran pada konser Sepultura (juga di Tambaksari) pada bulan Juni 1992 kalo nggak salah. Kali ini arek-arek Suroboyo sudah siap dan menguasai depan panggung mulai awal. Arek Malang langsung dihalau begitu masuk Tambaksari. Tawuran di luar stadion juga seru (katanya, ayas tidak ikut saat itu, heheheee….)
  3. Suporter sepakbola Malang pada saat itu (akhir tahun 80-an dan awal 90-an) berasal dari peleburan para “korak” atau geng-geng yang sebelumnya sangat gemar tawuran antar-kampung hingga cukup banyak memakan korban. Dengan dimediatori Bung Ovan Tobing, mereka akhirnya berdamai dan pada akhirnya menyatu dalam benderai “AREMA” (tanpa “NIA), yang artinya “Arek Malang”. Merekalah yang akhirnya sangat setia mendukung tim asal Malang (baik Persema maupun Arema). Dengan latar belakang seperti itu, suporter Malang (masih) sangat2 bangga jika dicap “perusuh” dan “pemberani”. Sebagai contoh, supporter Malang pernah “mengusir” dan “membersihkan” supporter Gresik di kandangnya sendiri, Stadion Tri Dharma Gresik pada saat Persema vs Persegres. Nyanyian “Moleh Tawur…Moleh Tawur” selalu bergema di Gajayana jika tim Malang kalah.
  4. Kecemburuan suporter Malang pada pemberitaan media (kala itu). Contoh, ketika Arema/Persema menang, pemberitaannya sangat2 kecil, mungkin hanya satu kolom. Sementara pemberitaan Persebaya sangat besar dan hampir selalu menjadi headline (meski hanya berlatih atau sekedar mengisi waktu senggang). NB: Paling tidak yg diberitakan media terbesar Jawa Timur.
  5. Dedengkot-dedengkot Persebaya dulu (yg saya ingat H.Barmen & Mudayat) sangat2 meremehkan & merendahkan tim-tim Malang. Beliau katakan tidak ada ceritanya Persebaya bisa dikalahkan tim2 asal Malang, menahan imbang saja mereka (tim2 Malang) sangat kesulitan. Pernyataan itu ditulis di media yg tadi saya sebutkan. Hal ini tentunya sangat menyakiti dan menyulut sensitivitas suporter Malang yang selalu direndahkan (orang Surabaya) dan dianaktirikan (media terbesar Jatim). Terlebih, ada isu bahwa suporter Surabaya (belum bernama BONEK) akan “ngluruk” ke Malang. Merasa tertantang, AREMA sudah siap mencegat bonek di Lawang. Namun sampai pertigaan Karanglo, Singosari, AREMA yg hendak ke utara dihalau dan ditangkapi polisi/Kodim. Akhirnya, sebagian suporter melampiaskan kemarahannya dengan memecahi kaca2 mobil plat L. Sementara di Gajayana sendiri, bentuk perlawanan terhadap dedengkot Surabaya diwujudkan dalam dua spanduk bertuliskan “Kalahkan Persebaya, Bungkam Mulut Besar Barmen dan Mudayat” dan “Barmen & Mudayat Haram Masuk Kota Malang”.
  6. (Judul) berita di media yg cukup mujarab mengadu domba. Contoh (yg lagi2 saya ingat) ” Pemain Persebaya Dijadikan Sansak Hidup Pemain Persema” dalam laga Persema vs Persebaya, yang memang sebelumnya diprediksi akan panas menyusul pernyataan Barmen dan Mudayat. Dalam laga yg saya saksikan sendiri itu, Persema pemanasan di gawang selatan dan Persebaya di gawang utara. Setelah koin tost, ternyata posisinya berpindah (Persema ke utara, Persebaya ke selatan). Pada perpindahan itulah beberapa pemain Persema sengaja menabrak pemain Persebaya hingga ada yang terjatuh. Inilah yang ditulis koran tersebut dengan ” Pemain Persebaya Dijadikan Sansak Hidup Pemain Persema”. Saya bisa memahami kemarahan arek-arek Suroboyo akibat isi berita dari judul tersebut.
  7. Pembalasan supporter Surabaya di Gresik dalam laga Persema vs Persegres setelah laga panas Persema-Persebaya sebelumnya, plus provokasi media. Ayas adalah saksi hidup dan selamat dari peristiwa itu. Ayas melihat sendiri arek2 Suroboyo membawa ketapel, pentungan, batu, hingga pisau untuk mensweeping arek Malang di stadion. Arek2 Suroboyo selalu mengatakan “goleki arek Malang, goleki arek sing ngomonge walikan, pateni arek Malang, pendem arek Malang”. Tulisan Persema di papan skor diambil dan dibakar. Sedikit koreksi tulisan Cak Donde Nymphetamine, jika dikatakan Pemain Persema baik2 saja, ayas kurang setuju. Sebab, ketika masuk lapangan saja Persema sudah diangkut mobil panser/trantis. Setiap kali pemain Persema melakukan lemparan ke dalam, mereka selalu dilempari dan dipukuli supporter Surabaya (bukan supporter Persegres). Bench cadangan pun dilempari dan ditusuk2 kayu bendera. Berkali-kali pertandingan dihentikan karena penonton Surabaya masuk dan menyerbu pemain Persema. Puncaknya, pertandingan dihentikan dan pemain Persema kembali dimasukkan di mobil panser di tengah lapangan.setelah itu ayas pulang dan tak tahu hasil akhir (yang ternyata Persema kalah) Terus terang, pada saat itu ayas sangat2 bersyukur karena keluar dari stadion dan pulang sampai Malang dalam keadaan selamat. Ayas tidak tahu tentang adanya korban di bunderan Apollo Gempol dan akhir tol Gresik karena setahu ayas, AREMA yg naik truk telah dicegat dan dipulangkan aparat saat masuk pintu tol Gempol. selain itu, isu di Malang justru mengatakan sebaliknya.
Menurut ayas, hal-hal itulah yang mengawali perseteruan supporter Malang-Surabaya (sekali lagi, bukan BONEK-AREMANIA) Dan permusuhan itu terus berkembang sampai sekarang.”
Melihat ulasan di atas, menurut ayas ada satu poin yang sangat penting yang membuat suasana panas menjadi semakin panas, yaitu media. Memang selama ini porsi pemberitaan tentang konflik antara Aremania vs Bonek (khususnya media wilayah Jatim seperti koran Jawa Pos, Surya, media internet beritajatim.com dan lain2) hampir dapat dipastikan apabila ada kejadian, maka pihak Aremania akan selalu mendapat pemberitaan yang seakan2 Aremania adalah terdakwa atau pihak yang bersalah. Padahal dalam kejadian sebenarnya seorang anak kecilpun tahu, bahwa banyak kejadian yang sebenarnya di mulai oleh ulah Bonek. Maka dalam hati para nawak Aremania akan dapat dipastikan muncul rasa tidak terima, sehingga rasa permusuhan itu akan tetap terpelihara.
Ayas sebagai orang yang telah memproklamirkan diri sebagai Aremania sebenarnya sangat tidak menginginkan adanya permusuhan dengan pihak manapun, akan tetapi jika permusuhan itu perlu, maka ayas juga tidak akan lari dari kenyataan tersebut.Hehehehehehe asal tidak menjarah dan merampok ataupun ublem stadion dengan tidak ngrayab!
menyebutnyaAREMANIA-BONEK) karena “GENGSI DAERAH”, masing-masing menganggap kotanya lebih kuat dan lebih hebat. Alasan saya, baik berhubungan dengan sepakbola atau tidak ad

Awal mula persahabatan VIKING & BONEK


Melihat sejarah, VIKING dan BONEK adalah pendukung sejati dari klub perserikatan yang sudah menjadi musuh bebuyutan dari sejak jaman perserikatan, yaitu PERSIB dan PERSEBAYA. Dilihat dari kacamata awam, tidak mungkin pendukung sejati yang berani mati demi mendukung timnya bisa bersahabat bahkan bersaudara dengan pendukung sejati yang sama-sama berani mati demi mendukung tim musuh bebuyutan. Tetapi ternyata VIKING dan BONEK membuktikan bahwa mereka bisa. Persaudaraan mereka dilandasi perasaan senasib dimana mereka selalu dijadikan bahan hujatan dan pendiskreditan dari masyarakat sepakbola nasional. Bahkan pers nasional pun paling senang apabila ada kerusuhan di partai yang melibatkan PERSIB atau PERSEBAYA karena bisa dijadikan headline dan sudah jelas pihak mana yang akan disalahkan.
Sejak dulu VIKING dan BONEK diidentikkan dengan kerusuhan. Istilahnya dimana ada pertandingan yang ditonton oleh VIKING atau BONEK maka akan terjadi kerusuhan. Hal-hal jelek dan bersifat mendiskreditkan itulah yang lebih sering diekspos oleh media massa nasional. Padahal tidak semua kegiatan atau kelakuan VIKING dan BONEK berujung pada kerusuhan. Dan tidak semua kerusuhan itu diakibatkan oleh mereka. Mereka hanyalah kaum tertindas yang selalu dipersalahkan karena dosa-dosa di masa lalu. Sangat jarang sekali (atau bahkan tidak pernah?) media massa nasional memberitakan kegiatan positif yang VIKING atau BONEK lakukan. Sangat jauh berbeda dengan pemberitaan media massa nasional tentang pendukung tim lain. Ketika terjadi kerusuhan yang melibatkan mereka hanya ditulis sedikit (atau bahkan tidak ditulis sama sekali?) dan ditutupi dengan kata-kata “oknum yang mengatasnamakan pendukung…”. What a bullshit! Sedangkan ketika melakukan kegiatan positif, media massa nasional langsung memberitakan secara besar-besaran, sebesar berita kerusuhan yang melibatkan VIKING atau BONEK. Bahkan saking terlalu seringnya pemberitaan yang memojokkan VIKING sebagai bobotoh PERSIB, bobotoh lain yang bukan anggota VIKINGpun menjadi antipati terhadap media massa nasional. Sampai ada jargon di kalangan bobotoh bahwa “PERSIB besar bukan karena pemberitaan media massa nasional, PERSIB besar karena bobotoh dan prestasi. PERSIB dan bobotoh tidak membutuhkan media massa nasional untuk menjadi besar. Media massa nasional-lah yang membutuhkan PERSIB untuk menjadi besar dan terkenal”.
Hal itulah yang mungkin menjadi salah satu penyebab munculnya perasaan senasib dan berkembang menjadi ikatan persaudaraan, selain tentunya kerusuhan di Jakarta dimana BONEK yang hendak mendukung PERSEBAYA di Senayan diserang oleh sepasukan organisasi masyarakat (?), yang tidak usah saya sebutkan disini karena semua juga sudah tau, dan kemudian diselamatkan oleh beberapa bobotoh (anggota VIKING) yang kebetulan sedang ada disana. Juga ketika PERSIB melawat ke Surabaya, dimana anggota VIKING yang mendukung PERSIB di sana dijamu sangat baik oleh BONEK. Demikian pula ketika PERSEBAYA yang bertanding di Bandung, giliran BONEK yang dijamu sangat baik oleh VIKING.
Indahnya persaudaraan diantara dua kubu suporter TERBESAR di Indonesia itu. Jadi saat ini BONEK bukan hanya berarti BONDO NEKAT, tapi bisa juga berarti BOBOTOH NEKAD.
Karena VIKING atau BONEK sama saja!