Surabaya (beritajatim.com) - Tragedi tewasnya anggota LA Mania dalam
insiden dengan bonek, Sabtu (22/1/2011), cukup menyita perhatian
publik. Bonek dinilai sebagai pihak yang harus bertanggung jawab atas
insiden tersebut. Lantas bagaimanakah tanggapan pihak bonek? Andhi
Mahligai, seorang bonek asal Magetan yang saat ini tinggal di Jakarta,
menulis sebuah pengakuan menarik.
Dia menuturkan tentang asal mula insiden tersebut. Bahwa, insiden
merupakan rangkaian dari peristiwa lain yang sebelumnya telah terjadi.
Artinya, insiden tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada
kesejarahan yang melatarbelakanginya.
Dia sendiri tetap tidak membenarkan adanya kekerasan antarsuporter. Dia
juga memimpikan bonek menjadi satu entitas tunggal dalam satu payung
organisasi. "Satu payung lebih mempermudah dalam hal koordinasi,
konsolidasi, edukasi, bahkan mungkin advokasi pada bonek yang tertimpa
masalah hukum. Tour away juga lebih bisa tertata, sehingga ekses-ekses
negatif yang berpotensi muncul saat tour bisa diminimalisir," demikian
dia menulis. [but]
Inilah isi lengkap pengakuan bonek:
BONEK: Terdakwa tanpa Pledoi
Dalam beberapa hari ini Bonek kembali menjadi sorotan di hampir seluruh
media informasi, mulai dari media elektronik hingga media cetak. Media
tersebut, ramai memberitakan tragedi Lamongan yang ‘katanya’ dipicu
oleh Bonek. Yang tentu saja, seluruh masyarakat yang melihat atau
membaca berita tersebut, langsung menghakimi Bonek adalah biang
kerusuhan.
Saya kira Bonek-pun tidak berkehendak akan timbul tragedi tersebut.
Keberangkatan Bonek ke Tangerang murni akan rasa cinta pada Persebaya,
Bonek bukanlah suporter yang harus dikoordinir untuk melakukan lawatan
away, kecintaan terhadap Persebaya-lah yang mendorong tiap individu itu
datang dan akhirnya berkumpul dalam serangkaian kereta menuju Jakarta.
Begitu indah, begitu egaliter karena tak ada yang memimpin atau
dipimpin, semuanya karena panggilan hati. Apalagi lawatan ke Tangerang
sudah cukup lama tidak dilakukan Bonek (Seingat Penulis terakhir tahun
2003), yang membuat ribuan Bonek terkonsentrasi menuju Tangerang.
Mungkin kalopun tragedi Lamongan ini terjadi, yang patut diketahui oleh
public adalah ini murni dari perseteruan antara LA Mania dan Bonek yang
sudah begitu lama terpendam. Bukan Warga melawan Bonek.
Entah siapa yang memulai, faktanya memang telah ada 2 korban dari
Suporter LA Mania (bukan warga biasa). Tapi yang patut menjadi catatan
adalah hampir setiap tahun dan waktu ketika Bonek mengadakan tour
melewati Jalur Utara yang tentu saja melewati Kota Lamongan selalu
terjadi sweeping oleh LA Mania pada kereta api yang ditumpangi Bonek,
dan kejadian itu terus berulang dari waktu ke waktu. Yang jadi
pertanyaan adalah, apa hak LA Mania mensweeping dan menurunkan Bonek
yang hendak melakukan tour ke luar kota. Tidak ada bukti jika Bonek
yang disweeping dan diturunkan adalah pelaku pengrusakan di Lamongan,
jika pun terbukti hal tersebut adalah wewenang dari Kepolisian. Sangat
disayangkan Kepolisian pun seakan tutup mata terhadap kejadian
tersebut, harusnya jika memang melakukan Razia cukup dari aparat
Kepolisian saja tanpa melibatkan warga sipil karena hal tersebut malah
berpotensi memicu insiden bentrokan dan kebencian. Jadi semua ini
sebenarnya adalah rangkaian peristiwa, yang terus berakumulasi dan
puncaknya pada kejadian beberapa hari yang lalu.
Apapun alasannya, sebenarnya aksi kekerasan yang dilakukan oleh Bonek
tersebut tidak bisa dibenarkan. Aksi kekerasan tetaplah sebuah tindakan
Kriminal yang mempunyai konsekuensi di mata Hukum. Aksi kekerasan
hanya menodai upaya keras Bonek untuk mengubah citranya yang negatif
selama ini, apalagi media massa begitu sensitif terhadap pemberitaan
Bonek. Dan yang dikhawatirkan terjadi, media massa dengan segera
memberitakan bahwa Bonek melakukan tindakan brutal dalam perjalanannya
menuju Tangerang, tanpa mengindahkan etika jurnalisme yang harusnya
melihat dari dua sisi yang berimbang dan tidak bias dalam pemberitaan.
Tentu saja dari pemberitaan tersebut, opini public langsung tergiring
bahwa Bonek telah berbuat onar di Lamongan, dan hal ini memicu warga
yang tak tau apa-apa untuk ikut ‘menyambut’ Bonek yang pulang dari
Tangerang.
Dari pemberitaan media massa yang terus menyudutkan Bonek, menjadikan
Bonek menjadi terdakwa di Negeri ini, tetapi sayangnya Bonek adalah
terdakwa tanpa pledoi. Stigmatisasi negatif masyarakat kepada Bonek
semakin menguat.
Tidak bisa dipungkiri, bahwa paradigma masyarakat umumnya menganggap
Bonek adalah “Biang Kerusuhan”, hal ini juga tak lepas dari
stigmatisasi Media Informasi yang mencitrakan hal tersebut. Memang
Bonek pernah berbuat rusuh, tetapi yang perlu diingat adalah kerusuhan
dalam sepak bola Indonesia tidak hanya dimonopoli oleh Bonek. Hampir
seluruh elemen Suporter di Indonesia pernah berbuat rusuh, bahkan oleh
kelompok suporter yang dianggap terbaik sekalipun. Entah itu dalam
bentuk terkecil seperti melempar benda-benda keras ke lapangan sampai
dengan bentrokan antar suporter yang melibatkan massa dalam jumlah
besar. Dan ironisnya, sekecil apapun tindakan bonek, hal ini langsung
menjadi santapan empuk media dalam pemberitaan.
Media massa pun sepertinya menikmati nuansa Bonek yang penuh dengan
kekerasan daripada melihat Bonek dari sisi yang lebih santun. Kemajuan
yang diperlihatkan Bonek dalam pendewasaan kelihatannya tidak menarik
bagi media yang memang lebih menyukai berita yang sensasional. “Bad
news is good news” tetap menjadi tolok ukur media massa. Spirit
sportivitas dan penerimaan terhadap hasil akhir yang ditunjukkan bonek
pun tidak menarik bagi media massa. Di musim lalu, dua kali kekalahan
di kandang sendiri, dari Persipura Jayapura dan Persik Kediri dan tidak
terjadi kerusuhan apapun merupakan kemajuan yang patut dipuji dari
Bonek.
Sangat patut disayangkan, stigmatisasi dan kriminalisasi terhadap Bonek
yang dilakukan media informasi itulah yang sebenarnya juga semakin
memperburuk attitude Bonek. Bagi bonek muda performa penuh kekerasan dan
brutalisme dianggap sebagai ‘kebenaran’, dan bagi Bonek senior
performa penuh kesantunan yang pernah ditunjukkan seolah lenyap begitu
saja oleh pemberitaan media, hingga mereka berpikir berbuat baik atau
tidak-pun toh media dan masyarakat tetap mengecap Bonek sebagai “bad
boys”. Seolah-olah Bonek memang telah menjadi korban dari sebuah teori
strukturalisme yang membutuhkan kelompok berpredikat 'bad boys' (anak
nakal) untuk menentukan kelompok berpredikat 'good boys' (anak baik).
Dan ironisnya, Bonek-lah yang ketiban sampur untuk diberi predikat
sebagai “bad boys”.
Stigmatisasi dari media juga yang membuat banyak Bonek menjadi antipati
pada Media. Tapi saya berharap, tak usahlah Bonek memusuhi media, tapi
tunjukkan pada semua Media Informasi bahwa Bonek adalah supporter yang
santun dan selalu berupaya, mempunyai itikad dan keinginan untuk
menjadi lebih baik. Apa yang sudah dicapai, dengan segala
kekurangannya. Bonek tak pernah berharap untuk diberi predikat terbaik,
menjadi lebih baik itu lebih dari cukup.
Mari jadikan Tragedi ini, sebagai sebuah pembelajaran. Bahwa semangat
Bonek yang egaliter, yang datang karena kecintaan terhadap Persebaya
ternyata juga mempunyai sedikit kelemahan. Kelemahan itu ada pada
koordinasi. Jangan sampai, karena ulah beberapa orang semuanya ikut
terlibat dan merasakan getahnya.
Memang sudah saatnya Bonek menata ulang spiritnya, sudah waktunya Bonek
menjadi satu entitas tunggal dalam satu payung organisasi. Satu payung
lebih mempermudah dalam hal koordinasi, konsolidasi, edukasi, bahkan
mungkin advokasi pada Bonek yang tertimpa masalah hukum. Tour away juga
lebih bisa tertata, sehingga ekses-ekses negatif yang berpotensi
muncul saat tour bisa diminimalisir. Manajemen Klub Persebaya pun
harusnya juga mulai perduli dengan supporter, karena bagaimanapun juga
baik dan buruknya supporter juga turut berperan dalam baik dan buruknya
nama Klub. Suporter adalah spirit, jangan hanya pandang supporter
sebagai konsumen belaka, tetapi rangkullah supporter sebagai keluarga.
INGAT.....
BONEK TAK KAN PERNAH MATI OLEH MEDIA MASSA....
TETAPI MEDIA MASSA AKAN MATI JIKA TIDAK ADA BONEK....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar